BEGINI awal yang kutahu: aku lahir—mungkin yang tepat bukan lahir, tapimerucut—sebagai telur, dan bukan berwujud bayi ayam. Ayam yang melahirkan aku adalah babon blorok, bekisar ayam bangkok dan ayam kate sekaligus. Artinya, ibuku adalah hasil kawin silang ayam bongsor dan ayam ceper. Tentu bisa kaubayangkan bagaimana bentuk babon yang melahirkan aku. Dan betul. Babonku adalah ayam yang tidak tinggi. Juga tidak pendek. Bolehlah dibilang sedang.
Begitu riwayat singkat babonku. Tapi sebentar. Sebagai calon ayam zaman sekarang, aku tak bisa membayangkan bagaimana kakekku dari ras ayam bangkok melompat dan menaiki nenek dari ras kate. Umat manusia—tuan para ayam—yang hidup di zaman Kompeni tentu mudah membayangkan persetubuhan macam itu. Sebab, masa itu memang sudah biasa lelaki Kompeni berbadan tinggi besar itu dengan sembrono menyetubuhi wanita pribumi. Tapi siapa tahu ada juga wanita pribumi yang diam-diam merasa nikmat disetubuhi Kompeni? Untuk kasus kakek dan nenekku, aku betul-betul tak bisa membayangkan bagaimana derita ayam kate ketika dinaiki ayam bangkok. Atau, jangan-jangan, kakekku memang terobsesi Kompeni. Tapi tidak penting menceritakan Kompeni di sini. Yang penting adalah mengusut persilangan sembrono kedua jenis ayam itu, yang menjadikan aku hadir ke dunia sebagai sebutir telur.